Bahan Bangunan

Atap Baja Ringan Aman Selama Mengikuti Kaidah Teknis

atap-baja-ringan

Seiring dengan fenomena semakin masifnya penggunaan material baja ringan untuk struktur rangka atap di kota-kota besar di Indonesia, masyarakat semakin familiar dan kemudian menganggap aplikasinya bisa seleluasa menggunakan kayu. Jika semula kita hanya bisa memesannya melalui aplikator resmi, kini di Jakarta dan sekitarnya banyak dijumpai toko yang menjual bebas aneka jenis, merek, dan kualitas baja ringan. Mereka bertindak sebagai agen untuk sejumlah aplikator. Apakah penjualan itu didukung dengan pemahaman yang baik mengenai produk dan sistem aplikasinya? Dan apakah konsumen mendapatkan informasi yang cukup untuk memilih baja ringan yang baik dan aplikator yang qualified? Hal inilah yang perlu diketahui oleh masyarakat, agar tidak terjebak pada persaingan bisnis yang tidak sehat.

Rangka baja ringan muncul bukan hanya karena kayu yang baik kian sulit diperoleh, tapi juga karena alasan efisiensi pemakaian bahan bangunan. Selama ini penggunaan kayu sebagai rangka hanya berdasarkan perkiraan atau kebiasaan, sehingga ukuran yang dipakai jauh lebih besar dibanding kebutuhannya (over design). Sebaliknya rangka baja ringan diaplikasikan berdasarkan perhitungan yang akurat menyangkut desain, struktur, bentang, ketinggian, kemiringan, kecepatan angin, dan beban atap. Untuk itu sejak awal rencana pembebanan seperti jenis dan berat genteng, lampu gantung, pemanas air, dan lain-lain, pada struktur atap harus sudah ditentukan. Perhitungan menggunakan perangkat lunak (software) khusus yang dioperasikan secara computerized guna mendapatkan desain atap dan rangka baja ringan yang tepat. Dengan demikian penggunaan rangka atap menjadi efisien namun tetap aman.

Lalu bagaimana kita memilih material baja ringan? Dan bagaimana pula kita memilih aplikator baja ringan yang qualified? Bagi masyarakat awam, tentu tidak mudah untuk memilihnya, karena tidak memiliki pengetahuan teknis untuk menganalisa hal tersebut. Bahkan bsebagaian praktisi konstruksi pun ada yang kurang memahami perihal atap baja ringan. Nah, aplikator baja ringan dalam posisinya sebagai engineer, mestinya berkewajiban memberikan informasi yang benar tentang produk dan sistem aplikasinya kepada konsumen. Namun selama ini beberapa aplikator justru berusaha untuk memberikan kesan harga yang murah pada produk dan jasa yang ditawarkan, tapi dengan “menyembunyikan” beberapa hal yang merupakan konsekuensi logis dari murahnya harga tersebut. Hal inilah yang harus diinformasikan kepada masyarakat luas.

Sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai engineer, penulis mencoba memberikan tips kepada masyarakat untuk dapat memilih produk dan aplikator baja ringan. Berikut penjelasannya:

  1. Harga per meter persegi? Banyak konsumen yang menanyakan, berapa harga per meter persegi untuk pekerjaan atap baja ringan? Hal ini tidak dapat dijawab sesederhana itu. Karena hal itu tergantung dari spesifikasi material, bentuk atap dan jenis penutup atap yang digunakan. Spesifikasi material meliputi bentuk, dimensi dan ketebalan profil yang digunakan. Bentuk atap mempengaruhi tingkat kerumitan sistem struktur rangka atap. Sedangkan jenis penutup atap mempengaruhi beban yang harus dipikul oleh rangka atap. Seperti diketahui, jenis penutup atap dapat berupa genteng keramik, genteng beton, atap asbes maupun atap metal. Jenis-jenis penutup atap tersebut memiliki berat yang berbeda-beda, sehingga akan menghasilkan perhitungan atap baja ringan yang berbeda pula. Nah, ketiga hal tersebut tentunya sangat berpengaruh pada harga per meter perseginya.
  2. Spesifikasi dan sistem aplikasi. Setelah memahami ketiga hal tersebut, konsumen diajak untuk memahami lebih jauh tentang data spesifikasi material rangka atap baja ringan dan sistem aplikasinya. Pembahasan ini meliputi mutu baja ringan, lapisan anti karat, software desain struktur, alat sambung, proses perakitan dan garansi.
  3. Mutu baja ringan. Karena ketebalan profil baja ringan sangat tipis (yang beredar di Indonesia berkisar 0,4 – 1 mm), bahan baja yang umum dipakai adalah baja mutu tinggi atau biasa disebut High Tension Steel, umumnya (standar) G550, artinya Yield Strength maupun Tension Strength dari baja tersebut minimal adalah 550 Mpa. Konsumen sulit untuk mengetahui mutu dari bahan yang ada, tetapi dengan mengetahui standar baja minimum G550, kita dapat meminta jaminan tertulis bahwa bahan baku yang akan kita pakai adalah G550.
  4. Lapisan anti karat. Lapisan Z (Zinc) yang sering disebut Galvanis dan AZ (Aluminium dan Zinc) adalah jenis-jenis lapisan anti karat yang paling umum dipakai di Indonesia. Masing-masing lapisan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang dimiliki Aluminium Zinc (AZ) adalah lebih tahan korosi terhadap air garam sedangkan kelemahannya adalah tidak tahan terhadap adukan semen atau mortar (korosif). Di lain pihak, lapisan Zinc (Galvanis) tidak terkorosi oleh adukan semen namun kurang tahan terhadap air garam. Menurut standar teknis tentang lapisan anti karat untuk baja ringan, dinyatakan bahwa ketebalan lapisan Aluminium Zinc minimal 150 gram/m2, sedangkan untuk lapisan Zinc (Galvanis) minimal 180 gram/m2.
  5. Sofware desain struktur. Karena perilaku strukturnya yang berbeda, struktur rangka atap baja ringan tidak bisa dihitung menggunakan software analisa struktur untuk konstruksi baja tebal yang umum dipakai. Banyak sekali variabel yang bisa mempengaruhi hasil desain perhitungan struktur. Sebagai konsumen yang awam, sulit untuk bisa memahami perhitungan desain struktur, tetapi kita dapat memilih produk yang memiliki dukungan software komputer khusus konstruksi baja ringan bereputasi internasional. Artinya desain struktur rangka atap baja ringan benar-benar dihitung dengan semua perhitungan bebannya, bukan dengan ilmu kira-kira atau berdasarkan kebiasaan.
  6. Alat sambung. Salah satu bagian terpenting dari struktur rangka atap baja ringan adalah alat sambung, yang biasanya berupa Self Drilling Screw (SDS), atau sekrup dengan ujung penembus baja tanpa mur. Untuk baja tipis, SDS yang dipakai harus jenis khusus dengan alur yang kasar, dan adanya ruang dibawah kepala baut. Alur yang kasar akan membuat baja tipis tersusun diantara alur, bukan dirusak oleh alur, sehingga SDS mampu memikul beban yang besar di sambungan. Selain itu pemasangan SDS harus memakai alat khusus berupa screw driver yang dilengkapi dengan kontrol torsi. Tanpa adanya alat kontrol torsi, SDS beresiko kehilangan fungsinya karena aus (overtighten), di mana keadaan ini amat berbahaya bagi struktur.
  7. Proses perakitan. Proses perakitan kuda-kuda untuk rangka atap yang dilakukan di proyek, banyak dilakukan di lapangan, padahal perakitan kuda-kuda memerlukan keahlian dan kontrol kualitas yang baik. Perakitan yang dilakukan di proyek mempunyai resiko kuda-kuda yang dibuat tidak rapi, tidak seragam, atau tidak sesuai dengan gambar desain. Kontrol pemasangan alat sambung Self Drilling Screw juga merupakan hal yang sangat penting. Solusi untuk menghindari semua resiko tersebut adalah dengan memilih kuda-kuda yang dirakit di workshop (prefabrikasi) dengan menggunakan mesin JIG, di mana perakitan dengan menggunakan mesin di workshop mempunyai kelebihan: mutu kuda-kuda terjamin rapi dan akurat, pekerjaan lebih nyaman, tidak tertanggu cuaca, dan kontrol pemasangan alat sambung Self Drilling Screw terjamin.
  8. Garansi. Garansi pada pekerjaan rangka atap baja ringan tidak hanya berupa garansi bahan saja, melainkan termasuk di dalamnya adalah garansi struktur, garansi bahan, garansi design dan instalasi. Garansi menyeluruh seperti ini hanya bisa didapat dari aplikator baja ringan yang menjual produk secara sistem. Aplikator ini biasanya merupakan aplikator yang direkomendasikan oleh produsen baja ringan. Namun ada pula aplikator baja ringan yang membeli material baja ringan dari toko material. Aplikator seperti ini biasanya tidak berani memberikan garansi secara sistem. Paling jauh, hanya akan memberikan garansi bahan, sesuai material yang digunakan.

Setelah memahami poin-poin di atas, perlu disampaikan pula fenomena yang terjadi pada menjamurnya penggunaan rangka atap baja ringan, yang diikuti dengan menjamurnya para penyedia jasa yang “mengaku” sebagai spesialis baja ringan. Di antara sekian banyak spesialis atau aplikator baja ringan tersebut, beberapa diantaranya memberikan layanan secara full system, yaitu melaksanakan pekerjaan mulai dari pemilihan profil baja ringan dan alat sambung yang direkomendasikan oleh pabrik/produsen, mendesain sistem struktur dengan software komputer dan melakukan perakitan baik di workshop maupun di lapangan, sesuai dengan ketentuan teknis. Aplikator tersebut biasanya merupakan aplikator yang direkomendasikan oleh pabrik/produsen sebuah merk baja ringan dan mendapatkan supervisi dari pemegang merk tersebut. Mereka juga dibekali dengan software untuk menghitung dan mendesain struktur atap baja ringan. Satu hal lagi adalah bahwa aplikator full system ini akan menggaransi produk dan pemasangannya secara sistem, karena memang didukung oleh produsennya.

Contoh ambruknya atap baja ringan karena kurang memperhatikan kaidah teknis

Contoh ambruknya atap baja ringan karena kurang memperhatikan kaidah teknis

Namun kini bermunculan pula aplikator baja ringan yang menggunakan profil baja ringan yang dijual secara bebas di toko-toko material. Apakah toko-toko tersebut menjual material sesuai dengan ketentuan teknis tentang baja ringan? Itu yang harus lebih dicermati. Masalah kedua yang muncul adalah bahwa aplikator seperti ini biasanya tidak membekali diri dengan software pendukung untuk menghitung dan mendesain struktur atap baja ringan. Biasanya mereka mendesain rangka atap hanya berdasarkan asumsi atau kebiasaan saja. Di sinilah kemudian perhitungan dan desain atapnya menjadi tidak akuntabel atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. Akibat dari hal tersebut, biasanya aplikator jenis ini tidak berani memberikan garansi secara sistem. Paling jauh, hanya akan memberikan garansi bahan, sesuai material yang digunakan.

Ada lagi satu faktor yang harus diperhatikan. Hal ini di luar material dan aplikator baja ringan, namun sangat signifikan pengaruhnya terhadap kekuatan rangka atap baja ringan. Faktor tersebut adalah dudukan struktur sebagai penopang  rangka atap baja ringan. Sangat ditekankan bahwa rangka atap baja ringan harus duduk di atas ring balok secara kokoh dan memiliki levelling yang baik (rata air). Jika terjadi ketidakrataan ring balok, sehingga harus diganjal, maka pemasangan ganjal ini harus dilakukan secara benar dan kokoh. Karena itu perlu koordinasi yang baik antara kontraktor bangunan dengan aplikator baja ringan agar hal ini diperhatikan sebelum dimulai pemasangan rangka atap baja ringan.

Seringkali kita dengar atau kita baca di berita, tentang ambruknya atap rumah atau gedung yang menggunakan rangka atap baja ringan. Ada yang ambruk setelah beberapa waktu gedung tersebut digunakan. Ada yang ambruk setelah dibebani atau dipasang genteng penutup atap. Bahkan ada yang roboh sebelum dipasang genteng. Secara sepintas kita akan mudah menuding, itu karena merk baja ringannya jelek. Atau sebaliknya, menuding aplikatornya yang nakal atau tidak kredibel. Nah, dengan uraian di atas, mudah-mudahan kita semua, termasuk yang awam dapat menganalisa kejadian tersebut secara teknis dan memperhatikan berbagai hal yang terkait. Namun tentunya akan lebih baik jika kita berusaha mencegah terjadinya hal itu dengan memperhatikan hal-hal di atas sebelum memilih produk dan aplikator baja ringan.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s