Peran Arsitek pada Proyek Konstruksi

Diposkan oleh

Peran arsitek pada proyek konstruksi
Peran arsitek pada proyek konstruksi

Menyambung artikel sebelumnya yang membahas tentang fungsi engineering pada proyek konstruksi, tulisan kali ini akan membahas tentang peran arsitek pada pelaksanaan proyek konstruksi, yaitu dalam perannya sebagai bagian dari tim engineering, yang terdiri dari dispilin struktur (sipil), arsitek dan ME. Sebelum membahas tentang profesi arsitek dalam proyek konstruksi, perlu ditengok terlebih dahulu batasan, standar dan kompetensi profesi arsitek menurut rumusan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia).

Pengertian arsitektur adalah wujud hasil perencanaan dan perancangan di bidang jasa konstruksi meliputi tata bangunan, tata ruang, dan tata lingkungan, yang setidak-tidaknya memenuhi kaidah fungsi, konstruksi, dan estetika yang mencakup keselamatan, kenyamanan.

Arsitek adalah sebutan ahli yang mampu melakukan peran dalam proses kreatif menuju terwujudnya tata-ruang dan tata-massa guna memenuhi tata kehidupan masyarakat dan lingkungannya, yang mempunyai latar belakang atau dasar pendidikan tinggi arsitektur dan/atau yang setara, mempunyai kompetensi yang diakui sesuai dengan ketentuan Ikatan Arsitek Indonesia, serta melakukan praktik profesi arsitek.

Profesi Arsitek adalah keahlian dan kemampuan penerapan di bidang rancangan arsitektur dan pengelolaan proses pembangunan lingkungan binaan yang diperoleh melalui pendidikan tinggi arsitektur dan/atau yang diakui oleh organisasi serta dari pengalaman penerapan pengetahuan ilmu dan seni tersebut, yang menjadi nafkah dan ditekuni secara terus-menerus dan berkesinambungan.

Dalam menilai standar pemenuhan kualifikasi profesional arsitek, IAI menetapkan 13 butir kompetensi. Dari 13 butir tersebut, empat butir di antaranya terkait erat dengan peran arsitek pada proyek pelaksanaan konstruksi, yaitu:

  1. Pengetahuan fisik dan fisika bangunan
  2. Penerapan batasan anggaran dan peraturan bangunan
  3. Pengetahuan industri konstruksi dalam perencanaan
  4. Pengetahuan manajeman proyek

Jika menengok kembali pada tugas fungsi engineering, maka peran engineer arsitek pada proyek konstruksi terkait erat dengan:

1. Pemahaman tentang teknologi dan karakter material bangunan

Pemahaman tentang teknologi bangunan diperlukan dalam merencanakan strategi pelaksanaan proyek dan metoda pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Engineer arsitek harus mampu mengidentifikasi permasalahan, terutama pada pekerjaan finishing, sehingga dapat merumuskan metoda pelaksanakan yang tepat, sehingga dicapai mutu pekerjaan yang optimal dengan tahapan pelaksanaan yang efektif dan efisien.

Terkait dengan hal ini, diperlukan pula pemahaman terhadap karakter material bangunan, sehingga dapat menentukan spesifikasi material finishing yang digunakan. Pemahaman spesifikasi material ini tidak hanya mencakup taste (misalnya warna dan corak), melainkan juga spesifikasi secara teknis dan fungsi. Contoh sederhanal, misalnya tentang penggunaan cat tembok yang cocok untuk interior dan eksterior, atau pun cat yang cocok untuk bangunan rumah sakit. Contoh lain adalah pemilihan kaca untuk jendela ruang dalam dan jendela dinding luar atau curtain wall. Lebih lanjut tentang pemilihan kaca untuk skylight dan kanopi.

Pemahaman ini sangat diperlukan karena kadang penentuan jenis dan spesifikasi material finishing tidak diatur secara detail dalam RKS atau terdapat kesalahan dalam penentuan spesifikasi material secara sistem. Di sinilah peran engineer untuk memberikan usulan pemilihan material, dengan tetap melalui prosedur SOP yang telah ditentukan.

2. Kemampuan untuk menterjemahkan gambar desain dari perencana menjadi shop drawing

Engineer arsitek dengan dibantu oleh drafter, harus mampu menyajikan shop drawing, sebagai penterjemahan gambar desain, sehingga mudah dipahami oleh pihak lapangan. Kriteria shop drawing yang baik adalah:

    • Aplikatif, yaitu dapat dilaksanakan tanpa kesulitan yang tidak perlu.
    • Penggunaan skala yang tepat untuk setiap shop drawing, sehingga terbaca dengan mudah.
    • Menampilkan ukuran dimensi yang lengkap dan detail, sesuai dengan bahan dan material yang digunakan, sehingga tidak terjadi kesalahan ukuran.
    • Menampilkan jenis dan spesifikasi material yang digunakan secara lengkap dan detail, sehingga kesalahan dalam pengadaan material.
    • Metoda pelaksanaan pekerjaan dapat terbaca dalam gambar shop drawing.
    • Secara prinsip, shop drawing harus dibuat sedemikian jelas, sehingga meminimalkan pertanyaan-pertanyaan akibat ketidakjelasan gambar. Dengan kata lain, dalam setiap lembar gambar harus menampilkan sebanyak mungkin informasi yang diperlukan.

3. Kemampuan untuk memaksimalkan pemanfaatan value engineering

Value engineering (VE) adalah suatu teknik manajemen yang menggunakan pendekatan sistematis untuk mencapai keseimbangan fungsional terbaik antara biaya, keandalan dan penampilan dari suatu produk atau proyek. Dengan pengertian secara umum di atas value engineering diharapkan sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan dengan efektif dan efisien tanpa meninggalkan kaidah struktur suatu bangunan. Dalam konteks ini, maka engineer arsitek harus mampu membuat design engineering yang mencapai efisiensi dari segi waktu, biaya dan tenaga, dengan kualitas mutu terkendali.

Dilakukannya VE bukan semata untuk kepentingan kontraktor, tapi justru bermuara untuk kepentingan owner. Latar belakang dilakukannya VE dimungkinkan karena sebab-sebab berikut:

    • Meningkatnya biaya konstruksi
    • Kekurangan dana pembangunan
    • Suku bunga cukup tinggi
    • Inflasi meningkat tiap tahun
    • Kemajuan teknologi yang sangat pesat
    • Perencanaan yang terlalu mewah
    • Adanya pertumbuhan ekonomi

Dalam upaya memaksimalkan pemanfaatan value engineering ini, engineer arsitek dituntut untuk mengeksploasi kemampuan arsiteknya untuk dapat melakukan VE. Contoh-contoh dilakukannya VE biasanya terkait dengan metode pekerjaan. Untuk pekerjaan struktur, contohnya adalah pengecoran bangku tribun pada stadion dengan sistem in situ, yang diubah menjadi precast. VE pekerjaan struktur ini terutama terkait upaya efisiensi waktu. Selain itu juga dicapai kualitas pekerjaan yang lebih baik, terutama dari segi kerapian pekerjaan, sehingga tidak memerlukan pekerjaan repair permukaan bangku tribun.

Untuk pekerjaan arsitek, contoh VE misalnya tentang perubahan pelaksanaan pekerjaan kusen kayu dari wet system menjadi dry system. Wet system adalah sistem pemasangan kusen kayu bersamaan dengan pemasangan bata dinding. Sedangkan dry system adalah sistem pemasangan kusen kayu setelah setelah selesai pekerjaan finishing dinding, yaitu finishing opening dinding. Lebih tepatnya ini merupakan penerapan sistem pemasangan kusen aluminium yang diterapkan pada sistem pemasangan kusen kayu. Hasil yang dituju pada VE pemasangan kusen kayu ini adalah tercapainya kualitas pemasangan yang labih rapi dan waktu pelaksanaan yang lebih cepat.

One comment

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s